Copyright by tettytanoyo. Powered by Blogger.

I'tikaf: Pitstop dari Perjalanan

 
sumber


Alhamdulillah,

Ramadhan sudah memasuki 10 hari terakhir, dimana Allah telah menyisipkan satu malam yang menjadi rebutan semua muslim dan muslimah di seluruh dunia, yakni lailatul qadar.

Mesjid-mesjid pun mulai sesak oleh para jamaah yang ingin melakukan i'tikaf. Berdiam diri di rumah Allah, mengingatNya, menyebut namaNya, bersyukur padaNya, mohon ampun padaNya, mengharap hanya RidhoNya.

Malam-malam panjang itulah yang dirindukan, malam dimana manusia bermuhasabah atas perjalanan selama 11 bulan.  Perjalanan duniawi yang menyita banyak energi, perjalanan duniawi yang menguras banyak materi.

Ini saatnya, beristirahat dalam Pitstop-Nya.

11 bulan bukan waktu yang singkat. 11 bulan yang lalu, kehidupan banyak diwarnai dengan perubahan, persaingan, kegelisahan, keterpurukan, kegalauan, kebahagiaan, kesyukuran, kesedihan, dan macam rasa yang ada di hati tiap manusia.

11 bulan adalah perjalanan yang melelahkan. Mungkin, setiap hari kita shalat, tapi tak pernah benar-benar bertemu denganNya. Mungkin selama ini kita tilawah, tapi tak pernah benar-benar mengerti pesan dariNya.

11 bulan adalah ujian. Kesedihan, duka, keterpurukan, kerap kali mengingatkan kita akan kehadiranNya, tapi tidak jarang, ujian yang terjadi justru membuat jarak antara kita dan sang Maha Pencipta.

11 bulan adalah nikmat. Kebahagiaan, jabatan, rezeki, anak, harta, menjadi pundi-pundi yang membuat kita tersenyum. Merasa puas akan kehidupan yang kita jalani, merasa puas akan pencapaian diri. Tapi apakah semuanya sudah benar-benar kita syukuri? atau hanya berterima kasih pada diri sendiri?

10 hari, ya hanya 10 hari dalam 1 bulan istimewa ini, biarkan air mata jatuh diantara sajadah panjang. Biarkan hati menangis bersimpuh rasa malu kepadaNya. Atas kesombongan, atas kekufuran.

I'tikaf adalah masa untuk memetik hikmah atas 11 bulan yang begitu melelahkan. 11 bulan mengarungi duniawi yang kian gemerlap membutakan mata hati. 

I'tikaf adalah sebuah pemberhentian dari perjalanan panjang. I'tikaf adalah waktu yang tepat untuk mengisi kembali ruhiyah yang lama kering kerontang.

I'tikaf adalah cara terbaik untuk kita kembali padaNya. Mengenali apa yang harus kita cari dalam hidup, menggali makna atas apa yang kita jalani selama ini.

I'tikaf adalah sebuah pitstop. Jangan ditinggalkan, jangan disia-siakan. 


#SelfReminder Pisan 

 

Makarizo Hair Energy Cara Merawat Rambut Rusak dan Rontok

cara merawat rambut rusak

Assalamu'alaikum, 

Awesome Reader!


Pasti semua sudah kenal dengan Makarizo Hair Energy kan? Itu tuh produk perawatan rambut yang berbentuk cream yang biasa digunakan untuk creambath, baik itu di rumah atau di salon. 

Makarizo Hair Energy adalah produk creambath yang tepat untuk melakukan perawatan rambut, yaitu dengan cara merawat rambut rusak secara alami. 

Mau bukti?

Sebagai buktinya, Makarizo hair energy meraih penghargaan Top Brand sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 2012, 2014, dan 2015. Selamat ya Makarizo, prok.. prok.. prok.

cara merawat rambut rusak
Selamat yaa Makarizo
Makarizo Hair Energy merupakan salah satu produk perawatan rambut dalam bentuk cream yang memiliki tiga varian ekstrak bahan alami yang diyakini mampu merawat rambut rusak dan memberikan energi baru pada rambut, yaitu:

Makarizo Hair Energy creambath Royal Jelly, Makarizo Hair Energy creambath Kiwi, dan Makarizo Hair Energy creambath Aloe Vera.


cara merawat rambut rusak

Varian yang dimiliki oleh Makarizo Hair Energy ini efektif untuk mengatasi beberapa masalah rambut yang seringkali dialami oleh para wanita, yaitu rambut yang sering rontok, rusak, bercabang, dan lain sebagainya.

Tapi sekarang, kita tidak perlu khawatir, karena Makarizo Hair Energy mampu merawat rambut rusak, rontok, dan bercabang akibat bleaching, pelurusan, keriting, sering dicatok dan diwarnai.

Sekolah Favorit Untuk Siapa?

Dok Pribadi


"Jangan lupa, salah satu tujuan negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa"



Walaupun tidak terlibat dan merasakan secara langsung, tapi gemes juga liat berbagai status yang berseliweran di facebook dan postingan blog tentang penyelenggaraan penerimaan peserta didik baru, khususnya di kota Bandung.

Beberapa emak melayangkan protes lewat akun facebook masing-masing, bahwa penyelenggaraan PPDB tahun ini banyak menuai masalah dan kontroversi. 

Salah satunya masalah mengenai peserta didik yang mendaftar dari jalur non akademis dengan menggunakan SKTM alias Surat Keterangan Tidak Mampu. Disinilah banyak terjadi kecurangan dan kontroversi hati di kalangan masyarakat.

Berikut saya kutip status akun Facebook dari Walikota Bandung Kang Ridwan Kamil.

SETELAH polisi bergerak, Sudah 1000 orang warga mampu/mapan yang ngaku miskin dan pake SKTM (Surat keterangan tidak mampu) mengundurkan diri. Kami beri waktu sampai hari Jumat untuk mundur. Jika tidak, tim polisi akan cek satu-satu rumah tiap pendaftar via SKTM. Setelah ini Polisi akan proses hukum para orang tua yang berbohong dan memanipulasi data dan merugikan mereka yang berhak. Awas ya. Omat.

status berikutnya:

Ada warga miskin pintar dan tidak pintar. Ada warga mapan pintar dan tidak pintar. Yang miskin diurus oleh negara, sekolahnya digratiskan karena tidak mampu. Jika yang miskin ke swasta, rata-rata tidak mampu dan terbukti banyak yang putus sekolah. Yang mapan pintar pasti masuk negeri yang ia mau, karena angkanya baik. Yang mapan tidak pintar/pas-pasan bisa negeri selama bangku ada atau ke swasta yang juga bagus kualitasnya. Itu semangat PPDB tahun ini.

Bukan sistem PPDB nya yang bermasalah, karena sudah berusaha seadil mungkin dalam keterbatasan bangku sekolah negeri. Dan Sistem ini sudah diputuskan secara kolektif oleh Pemkot, Dewan Pendidikan, Forum Peduli Pendidikan, Muspida dll.


Yang jadi masalah adalah: MENTAL para oknum orang tua yang mengajari anak-anaknya, bahwa berbohong adalah biasa, INI adalah bahaya bagi masa depan bangsa ini. Mau dibawa kemana peradaban Indonesia jika generasi mudanya dilatih berbohong. KARENANYA Pemkot akan bertindak tegas agar pelanggar aturan ini tidak menjdi budaya.

Kepolisian minggu ini sudah bergerak menyelidki. jika terbukti orang tuanya mapan mengaku miskin, pasti akan dituntut hukum dan anaknya dicabut dari sekolah yg diminati. Para RT/RW/Lurah dan guru/Kepsek yang terlibat dalam persengkongkolan juga akan ditindak. Besok Kamis, semua kepala sekolah dan Lurah2 akan dipanggil Polrestabes untuk mempertanggungjawabkan.

Ketika Blogger Saling Mendo'akan

Source Pinterest


Ya Alloh ini ngeposting jam segini.. Sahur gimana sahur *lirik alarm*

Baru jam segini saya bisa buka laptop dan internet dengan leluasa. Karena:

*anak dan suami udah pada tidur
*kuota internet baru diisi
*baru sembuh dari sakit
*baru punya mood lagi

Haish.. haish.. haish..

-------

Hal pertama yang saya lakukan ketika buka blog adalah liat ikhtisar, liat komentar yang menunggu dimoderasi. *sengaja ya pake moderasi biar ga ada tukang obat buka lapak sembarangan*

Walau beberapa hari (hampir seminggu lebih) gak saya buka, beberapa komentar banyak yang antri untuk di-publish. 

Biasanya kalau habis baca komentar, saya langsung balas, atau saya pending dulu balasnya disekaligusin pada satu waktu *haha ketauan*

Tapi yang paling bikin saya heran adalah komentar-komentar saling mendo'akan dari para blogger. *Dido'ain kok heran? bukannya terima kasih*

Masalahnya, ngedo'ainnya adalah ngedo'ain supaya kita 'menang' lomba blog yang padahal sang komentator mengikuti kompetisi blog yang sama. Lah? bukannya artinya kita jadi saingan ya?

Sekilas, memang keliatannya kita saingan, berkompetisi untuk meraih kemenangan. Tapi FAKTANYA justru BEDA. Para blogger soleh dan solehah ini malah saling mendo'akan satu sama lain.

Gak nyangka!

Iya! Saya sama sekali gak nyangka! 

Di dunia per-blogger-an yang hiruk pikuk dan diwarnai dengan berbagai kompetisi dan job review, hampir gak pernah saya liat adanya SALING SIKUT.


Para blogger relatif santai, mekakukan apa yang harusnya dilakukan, menulis apa yang seharusnya ditulis, mendesain apa yang seharusnya didesain, gak mesti mikirin saling sikut layaknya di arena balap.

Sungguh saya salut dan angkat topi akan kenyataan ini *apaaaannn siii buuu*
Banyak blogger soleh dan solehah yang ngeblog dengan tujuan berkarya dan berbagi, tidak semata untuk berkompetisi satu dengan yang lain.

---------

Hebat-lah pokona mah blogger sekarang.

Daripada repot menghujat dan mengkritik abis-abisan mending juga saling mendo'akan. 

Pahala dapet, 'imbalan' juga dapet. Suatu saat pasti dikalkulasi, ada balasan kebaikan dari sebuah kebaikan. 

Makasih yang udah ngedo'ain saya di kolom komentar, dan subhanalloh, do'a-do'a tersebut banyak yang diijabah oleh Allah SWT.

Semoga do'a tersebut berbalas kebaikan yang lebih besar dan besar lagi. Aaamiinn. 

Salam Ukhuwah :)


Mobil Impian Keluarga Kecilku

"Mobil baru Alhamdulillah, untuk dipakai dihari raya. 
Tak punya pun tak apa-apa,
masih ada mobil bekasnya. Oh yaaa"



Liriknya maksa banget ya, hihi.

Bagi sebagian keluarga (termasuk keluarga saya) memiliki sebuah mobil sebagai sarana transportasi keluarga merupakan suatu impian tersendiri. Bukan sekedar untuk 'gaya-gayaan', tapi memang untuk memenuhi salah satu kebutuhan hidup.

Kenapa memiliki mobil disebut kebutuhan?

Bagi keluarga mungil saya, memiliki sebuh mobil telah masuk ke dalam list kebutuhan yang harus mulai dipikirkan secara serius. Loh mau punya mobil aja serius amat? yaiya dong, memiliki kendaraan yang mampu mempermudah mobilitas dan keperluan keluarga harus dipikirkan secara serius.


mobil bekas mobil baru


Alasan lebih lanjut kenapa mobil sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi keluarga saya adalah:

1. Anak yang makin besar. Sebelumnya, pakai motor masih fine-fine aja tuh, tapi sekarang, Kifah sudah berusia 4 tahun, dan badannya makin tumbuh tinggi dan besar. Bertigaan di motor udah makin repot, apalagi kalau bawa barang-barang lainnya ditambah Kifah yang suka tidur di motor. Hadeuhh, repotnya emak yang satu ini.

2. Sulit membawa barang. Ketika naik motor, saya kesulitan untuk membawa beberapa barang sekaligus. Tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang, misalnya setelah belanja bulanan. 

3. Kesulitan untuk mudik. Nah, ini penting banget. Gak punya mobil itu sulit untuk mudik ke Bandung. Padahal jarak antara Bogor-Bandung gak seberapa, tapi sulitnya bukan main ketika saya sekeluarga belum memiliki kendaraan sendiri. Pertama, karena jauhnya letak transportasi umum seperti terminal atau stasiun kereta api. 

4. Efisiensi waktu dan tenaga. Masih cerita tentang sulitnya mudik ketika belum memiliki mobil sendiri. Ketika kami mudik menggunakan bis, waktu tempuh Bogor-Bandung menjadi 5 jam bahkan lebih. Sedangkan kalau kita perkirakan, dengan mobil pribadi, waktu tempuh Bogor-Bandung bisa ditempuh kurang lebih 3 jam saja. 

5. Tidak bisa mengajak keluarga dan orang tua tamasya bersama. Kesulitan lainnya ketika belum memiliki mobil pribadi, kami tidak bisa bertamasya bersama sanak saudara, orang tua, dan keluarga lainnya. Dan ini menjadi sebuah dilema tersendiri, apalagi ketika ada momen seperti Idul Fitri. 

Ok fix, dengan ini saya menyatakan bahwa keluarga mungil saya sudah memerlukan mobil pribadi.


Blogger Profesional VS Blogger Amatiran

blogger amatir


Topik ini sebenernya udah basi! Basi banget!

Tapi tak apalah, apa daya. Kalau saya masih penasaran kalau belum menuliskannya pada seonggok website 'amatiran' ini. 

Suatu hari,

Seorang blogger memposting sebuah gambar. Gambar hasil capture dari sebuah majalah yang sudah sangat terkenal se-Indonesia raya. Isinya adalah sebuah tulisan dari redaksi majalah tersebut. 

Kurang lebih isi tulisannya begini:

Saya tergerak untuk menulis mengenai labelling yang terasa berlebihan saat ini. Begitu mudah kita menempelkan suatu profesi hanya karena melakukan satu dua pekerjaan saja. Menyebut diri blogger hanya karena punya blog (padahal tidak update juga). Satu dua kali menulis menyebut diri penulis, sesekali berpergian melabeli diri traveler, bikin satu dua koleksi busana sudah menjadi desainer, dan seterusnya.

Mungkin ini urusan pribadi, namun di ranah profesional hal ini sulit dibenarkan. penghargaan terhadap mereka yang betul-betul berprofesi itu menjadi terabaikan. Apalagi ketika mereka kalah 'pamor' dengan para wannabe ini yang populer di ranah maya. Selalu ada proses yang dilewati untuk boleh memakai label profesi tertentu, kalau mau pekerjaan itu disandang dalam jangka waktu lama. Tidak hanya musiman atau ikut-ikutan tren.

Happy Thursday